Mungkin aneh jika kita mengamati sebuah klub di English Premier League menggunakan kaos bertandingnya tanpa sponsor. Polos, dan hanya di isi nomor dada. Padahal Liga Tarkam di tanah air saja sudah memakai kaos bersponsor, walau cuma sponsor merek kacang goreng. Tapi begitulah yang terjadi dengan West Ham United.West Ham United, klub yang diarsiteki pelatih mungil Gianfranco Zola ini merupakan satu-satunya klub di Liga Premier yang bertanding tanpa sponsor di kostum pemainnya. Hal ini mulai terjadi di awal november lalu saat mereka bertanding di Uptown Park, London, menghadapi Everton. West Ham United, salah satu dari 20 klub elit Liga Premier Inggris tersebut memang sedang terancam krisis finansial yang pelik.
Memang tidak hanya West Ham United yang terkena krisis, semua klub sepakbola di Inggris, bahkan di seluruh Eropa, termasuk Spanyol dan Italia, sedang mengalami krisis finansial akibat krisis keuangan global. Dampaknya sangat terlihat dari beberapa aspek yang selama ini menjadi pilar pendapatan klub: merosotnya suporter yang datang ke stadion, seretnya penjualan merchandise, dan macetnya kucuran dana sponsor. Satu-satunya yang masih eksis adalah berkah penjualan hak siar televisi. Padahal, melalui hitung-hitungan, West Ham bisa jadi kehilangan peluang meraup kontrak sponsor di dada kostum yang nilainya bisa mencapai 100 juta dollar AS.
Secara geografis, persoalan keuangan di Liga Premier Inggris adalah potret pucat kepemilikan klub-klub Inggris oleh pengusaha-pengusaha asing. Sebagai contoh, tengok saja Chelsea, Manchester City, dan Liverpool yang aset-asetnya adalah milik milyuner-milyuner non-Inggris. West Ham sendiri dimiliki oleh pengusaha asal Eslandia, Bjorgolfur Gudmunnsson.
Gudmunnsson adalah pemilik saham terbesar Bank Lansbanki, bank terbesar kedua di Eslandia. Sialnya, bank yang menjadi pemasok dana klub West Ham United itu sedang dalam pengawasan pemerintah setempat akibat krisis global. Kabarnya Gudmunnsson sedang dalam upaya menjual aset-asetnya untuk mengatasi masalah di bank miliknya.
Senasib dengan West Ham, Liverpool dan Newcastle United juga mengalami krisis keuangan. Liverpool melalui Direktur Investasi Bank Seymore Pierce, Keith Harris, menyatakan Liverpool dalam keadaan kritis jika tidak segera melunasi hutang sebesar 350 juta pounsterling yang jatuh tempo pada 29 Januari 2009. Sementara Newcastle, melalui bosnya, Mike Ashley, juga sama memiliki masalah keuangan di klub. Ia bahkan telah mengumumkan penjualan klubnya pada 14 November lalu setelah Kevin Keegan mundur sebagai pelatih.
Ah, ini mungkin kesempatan bagi pengusaha-pengusaha Indonesia untuk membeli klub sepakbola Premier League. Ayo Pak Bakrie, mungkin berminat seperti Thaksin Sinawatra tahun lalu di Manchester City. Sepakbola pasti aman, tidak ada urusan dengan pengeboran minyak. Tidak perlu takut, Inggris beda dengan Sidoarjo, yang menyembur pasti uang, bukan lumpur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar