Tiga yang disebut pertama tentunya sudah tidak perlu ditanya gengsinya. Sudah menjejak menjadi sejarah panjang: lomba balap sepeda paling akbar di seluruh dunia. Lalu bagaimana dengan Tour d'Indonesia milik kita? Nah, UCI atau Persatuan Balap Sepeda Internasional, memiliki klasifikasi terhadap seluruh even balap sepeda di dunia.Klasifikasi tertinggi dalam balap sepeda profesional disebut Pro Tour. Tour de France, Giro d'Italia, dan Vuelta a Espana masuk dalam kategori ini. Karena reputasinya, tiga lomba itu juga dikenal sebagai grand tour. Grand slam-nya ajang balap sepeda.
Agenda Grand Tour diawali dengan Giro d'Italia yang berlangsung Mei-Juni, Tour de France pada bulan Juli, dan Vuelta a Espana pada bulan September. Masing-masing even akbar ini berlangsung sekitar tiga pekan, tak kurang menempuh jarak 3000 kilometer yang terbagi dalam 20 hingga 21 etape. Soal hadiah jangan ngiler, Tour de France menyiapkan total 4,8 juta dollar AS, setara dengan 57,6 miliar.
Tak sembarang pembalap dapat ikut grand tour. UCI menetapkan ajang ini hanya bisa diikuti oleh tim Pro Tour (divisi utama balap sepeda internasional) dan tim profesional kontinental (divisi dua) yang mendapatkan undangan. Tapi belakangan, penyelenggara grand tour berseteru dengan UCI tentang kewajiban mengundang seluruh tim Pro Tour. Rupa-rupanya bisa jadi di masa mendatang grand tour ini hanya akan diikuti tim Pro Tour kelas atas saja.
Di bawah Pro Tour ada UCI Continental Tour. Even ini dibagi berdasarkan benua, yaitu meliputi UCI Europe Tour, UCI Africa Tour, UCI Asia Tour, UCI America Tour, dan UCI Oceania Tour. Sudah barang tentu Tour d'Indonesia masuk dalam agenda UCI Asia Tour, sama dengan punya negeri tetangga, Tour de Langkawi.
Tapi tunggu dulu, walau sama-sama dalam UCI Asia Tour ada perbedaan kelas antara keduanya. Tour d'Indonesia yang kembali dihelat tanggal 23 November hingga 5 Desember berada di kelas 2.2, sedangkan Tour de Langkawi berada di kelas 2.HC, atau dua tingkat di atas level Tour d'Indonesia. Alamak!
Chief Commisaire Tour d'Indonesia, Jamaluddin Mahmood mengatakan ada beberapa indikator yang menjadi perbedaan tiap kelas, diantaranya: jumlah tim peserta, biaya, dan lama lomba. Untuk kelas 2.HC sebayak 50 persen tim peserta harus berstatus Pro Tour. Selebihnya bisa diisi tim profesional dari masing-masing kontinen, tim kontinental, dan tim nasional dengan lama perlombaan 8-10 hari. Sedang kelas 2.2, tim pesertanya cukup terdiri dari tim profesional kontinental, ditambah tim kontinental, tim nasional, dan tim regional atau klub.
Yah memang banyak pembalap-pembalap lokal yang ambil bagian dalam Tour d'Indonesia, diantaranya berasal dari tim Polygon Sweet Nice, Araya, Customs Cycling Club, Jabar Cycling Team, Jakarta Cycling Club, Kutai Kartanegara Cycling Team, Benteng Muda Tangerang, Dodol Picnic Garut, Bintang Kranggan Cycling Club, dan Putra Perjuangan Kota Bandung. Tapi aduh, kapan naik kelasnya ya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar